Demotivated of Dreaming; Ada apa dengan Syifa?

Hallo, Wie geht’s Ihnen? [Halo, apa kabarmu?]
Mir geht’s nicht gut 😦 [Kabarku lagi gak baik, nih.]


Hari ini, aku baca-baca tulisanku waktu SMA. Salah satu yang bikin mood jadi sedih adalah ketika aku melihat foto ini di salah satu postinganku :

Bukan, bukan karena belum moveon dari kampus sebelah.. Kalo masalah itu mah, semakin dijalani jadi nemu sendiri jawaban kenapa Allah menakdirkan di kampusku sekarang, jadi insya Allah dah moveon…

Yang jadi masalah sekarang adalah karena aku rindu punya mimpi tinggi, luas, dan hebat….  Sekarang, baru kusadari betapa semangatnya, kekeuhnya, dan berapi-apinya aku waktu SMA dalam memperjuangkan mimpi-mimpiku dulu, terlepas dari hasilnya apakah berpihak atau justru menjauhiku..

Dulu aku IPA, mimpiku IPS. Pada akhirnya aku memilih buat kejar mimpi itu abis-abisan walaupun harus mengulang dari awal.. Jatuh-bangunnya sekarang jadi kenangan manis, walaupun waktu itu mah nangis-nangis haha..
Dulu aku mimpi ke UI, dari mulai masuk SMA udah aku doakan dan ikhtiarkan. Ikhtiarnya mulai dari yang remeh banget macam nempel stiker di loker, pasang walpaper pake logo kampusnya, dan ngedit2 foto kek gitu itu haha.. Walaupun menurut Allah ada yang lebih baik buatku daripada aku di sana, tapi sekarang aku jadi inget betapa menyenangkannya punya mimpi…
Lho, syif, emangnya kamu sekarang gak punya mimpi?
Ya gak gitu juga sih.. Tapi rasanya mimpiku sekarang nggak seluas dulu. Sekarang rasanya makin terkotak-kotakkan gitu lho. “Yang penting lulus…” adalah sebuah tagline yang acapkali kutemui dan relevan untukku saat ini. Kenapa ya aku sekarang jadinya nrimoan gini? Sedih 😦
Kalo asumsi Mbak Katingku adalah “karena berada dalam zona nyaman. Jadi mager buat mengembangkan diri.. Berasa udah aman, play save mode otaknya jadi auto ngeredupin mimpi-mimpi..”

Well, zona nyaman! That’s the answer.
Lulus langsung ditempatkan. Ngga usah ngelamar kerja, auto dapet kerja.
Mau bermimpi sekolah ke luar negeri, tapi malah kebanyakan mikir kalo harus kerja dulu minimal 2tahun, beasiswa ke luar banyakannya S2, itupun kalo atasan mengizinkan, dan 1001 alasan lainnya yang mendiskreditkan mimpi-mimpi hebat nan tinggi itu….
Mungkin hal-hal di atas adalah beberapa jawaban kenapa sekarang rasanya hidupku hambar..

Sebab, ada mimpi yang berkali-kali aku redupkan, pun ada potensi yang diam-diam aku abaikan. Lucunya, dilakukan oleh diriku sendiri dengan sepenuh-penuhnya kesadaran.

Teruntuk diriku sendiri..
Terkadang, yang kamu butuhkan adalah berhenti berpikir perihal bagaimananya nanti.
Yang seharusnya kamu lakukan adalah mulai bermimpi dan meniti hari
dengan berani,
dengan semangat tinggi,
dan kerlip mata penuh percaya diri.

Jangan merasa terbebani,
kemudian malah mundur dan menutup rapat potensi.
Mulailah kembali bermimpi
seperti kamu, yang aku kenali..
Mulailah getarkan bumimu kembali,
bersemangatlah untuk keluar dari kungkungan zona penuh ilusi..
Mulai detik ini
tanpa nanti-nanti
tanpa tapi-tapi!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close