P A P A H

Assalamualaikum.
Long time no see ya, guys.
Asing rasanya udah lama gak berkicau di sini.
Entahlah, mood belakangan ini sedang tidak terkendali.

Seperti biasa, gue selalu muncul malem atau pagi buta di sini wkwk.
Btw, pernah gak sih lo ngerasa seharian ini lo gak produktif, giliran malem pengen tidur cepet justru merasa bersalah, then bangun lagi dari kasur dan doing something yang sebenernya too late. 😥
Nah, gue sering banget kek gitu, giliran mau bobok gak tenang dan merasa bersalah. Alhasil malah seringnya ngelakuin sesuatu entah apapun itu di pagi buta 😥 Makanya kenapa orang-orang selalu bilang gue selalu keliatan capek, kantong mata gue gede banget, atau “kamu gak tidur semaleman ya, syif?” Haha. Ini rahasia antara kita ya, coy 😉
Gue doain semoga malam kalian tidak seperti malam-malam penuh rasa bersalah yang berlalu dalam sejarah hidup gue. :’)

Anyway, di malam ini, gue kebetulan nemu foto masa kecil gue yang membahagiakan.
Foto bersama superhero dalam hidup gue, yak my-Papah.

IMG_20161222_164337.jpg
lucuk kan gue? 🙂

Tetiba juga dapet inspirasi dan kepengen ceritain Papah.
Sebelumnya gue udah pernah ceritain papah di sini, tapi gapapa lah ya kaloo gue ceritain lagi hehe. Next time sepertinya gue harus ceritain Mamah juga, biar balance gitu. 🙂 hoho

Papah.

Satu dari dua orang di dunia ini yang selalu manggil gue “Cantik”. Sejak kecil, panggilan gue dari sanak saudara adalah “Nok Syifa”. Tetapi tidak untuk Mamah dan Papah, bagi mereka gue adalah “Nok Cantik”. Terlepas dari cantiknya, gue selalu suka dan bangga dipanggil berbeda, kerasa banget spesialnya, ye gak sih? hoho. Sama halnya dengan kenapa gue selalu ngubah-ubah nama panggilan temen-temen gue yang gue anggap spesial. Bedanya, gue suka seenaknya sendiri dan terkesan “menjelekkan” nama mereka. Maaf ya bro-sist kalo kalian ada yang gak sreg sama panggilan yang gue kasih ke kalian. Tapi jujur sejujurnya gue enggak niat ngejek, itu panggilan sayang. Kapan lagi kan disayang sama gue? heheheheheheh

====================================

Papah adalah lelaki misterius dalam hidup gue.
Papah jarang banget to the point dan terkadang terkesan sangat tertutup. Ga pernah keliatan susah apalagi nangis di depan anak-anaknya. Mungkin naluri setiap ayah memang begitu, ya?
“Mah, Halim ada dimana?
“Mah, Ade lagi apa?”
“Mah, kok Fatiya belum pulang?”
[re: itu semua nama kakak-adik gue]
Ya kayak gitu, pasti Papah lebih memilih buat nanya dan cerita ke Mamah. Emang, Mamah lah yang suits him well 🙂 Gue yakin banget, pasti pas gue di Bintaro, 50% alasan Mamah nelfon gue adalah karena Papah yang nyuruh 🙂 Romantisnya papah tuh begini, diem-diem-asoy.

====================================

Ada momen bersama Papah yang akan selalu gue inget, selamanya. Momen ini adalah momen langka yang jarang terjadi. Tentang apa? Tentang cita-cita.

Waktu itu ……. [Gue lupa kapan hiks. Gue gakbawa pulang jurnal 2016 gue. 😦 pokoknya sekitar menjelang Ujian Tahap 2 STAN ]
Papah ngajakin gue jalan berduaan ke daerah Majalengka. Kalo gak salah buat nyari durian gegara di daerah sana banyak durian gede-gede kalo lagi musimnya.
Waktu itu juga lagi musimnya gue galau dan bingung setengah mati mau kuliah dimana, mau pilih STAN atau pilihan SBM gue, dsb. Pokoknya balada anak SMA tahun akhir banget deh.
Di jalan, Papah nanya, “Cantik mau jadi apa?”, terus gue ceritain kan gue mau jadi pengusaha, biar bisa kerja dari rumah, ntar bisa sambil ngurusin anak dan rumah karena punya waktu kerja yang flexible. Cuma, karena Papah gue adalah seorang pedagang yang ngerti banget dunia per-da-ga-ngan, Papah saat itu menyatakan bahwa dirinya kurang setuju denga cita-cita gue, menurut beliau menjadi seorang pedagang/pengusaha memiliki resiko yang tidak kecil dan keras untuk perempuan macem gue hehe. Kata papah, “Jangan, cantik. Jadi pegawai aja, kaya mamah. Dagang itu susah, keras. Nanti menikah aja sama pengusaha ya.” Kurang lebih seperti itu lah. Gue ditolak jadi pengusaha tapi malah suruh nikah sama pengusaha 🙂 Brilliant, Pah! 🙂
Terus kita cerita-cerita lagi, gue bilang juga kalo gue mau jadi Dubes LN. Ditolak juga karena ntar bakal jauh dan jarang ketemu :’)
Kemudian sampailah kepada Papah berkata, “Papah pengen banget Cantik masuk STAN. Nanti kalo masuk, papah mau surak di Pasar.” (re: surak adalah suatu bentuk rasa syukur yang dilakukan dengan melemparkan uang koin dan pecahan ribuan lainnya. Kemudian orang-orang bakal saling berebut mengambil uang yang dilemparkan tsb. Kegiatan ini umum beredar di Jawa)
Fyi, gue baper seketika. Jujur, obrolan saat itu adalah obrolan terintens yang pernah ada antara gue dan papah. Menurut beliau, untuk masuk STAN itu sulit karena pelamarnya banyak, ditambah karena biaya sekolah yang gratis, dan gaji nya nanti yang tidak sedikit. Then, Papah mulai bercerita tentang anak temennya yang berhasil menjadi seorang pegawai Kemenkeu. Di sepanjang jalan itu gue menyadari bahwa ada nada penuh pengharapan yang beliau taruh di pundak gue. Seakan rasanya menambah berat langkah untuk memilih. Namun, gue juga menyadari bahwa ada nada kebanggaan yang beliau pancarkan. Rasanya membahagiakan kalo gue benar-benar bisa membanggakannya.
Time passed by. Gue benar-benar dihadapkan pada kenyataan yang mengharuskan gue memilih. Menjadi seorang Calon Dubes atau seorang calon pegawai Kemenkeu. Berat memang. Karena dua-duanya sama-sama baik. Pada akhirnya, gue memilih sesuatu yang gak pernah gue impikan sebelumnya, berkat Papah.
Gue sadar bahwa Papah dan Mamah lebih meridhai gue untuk masuk PKN STAN ketimbang kampus “biru” sebelah. Mungkin, memang ini jalannya.
Satu hal yang selalu terngiang dipikiran gue sampai sekarang adalah kata-kata Papah saat itu, “Papah pengen banget Cantik masuk STAN.” Iya, Pah. Everything I do, I’ll do it for you two, Mamah dan Papah.
Sehat-sehat ya Pah, kan udah janji juga kalo Papah mau liat Nok berhasil kan Pah? Makanya, jangan ngerokok terus ya, Pah. 🙂

 

Cirebon, 16 Februari 2017
Sincerely,

 

Syifa Auliya Haris
Nok Cantiknya Papah.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s