Bis bald!

Katamu kau inginkan kata semangat dariku.
Maaf aku tidak mampu memberikannya langsung saat kau memintaku.
Mungkin tak sesuai bayanganmu, atau harapanmu kepadaku.
Tapi setidaknya, bacalah, hanya ini yang bisa kuberikan untukmu.

 

Kamu bukan seseorang yang jago berkata-kata.
Jujur saja, bukan.
Aku tau kamu tidak menyukai bahasa, tidak menyukai hal-hal yang berbau sastra.
Namun aku selalu tau, bukan seindah apa kata yang terukir, tetapi makna nya, itulah yang membuat kita berfikir.
Ada seseorang yang bercerita padaku—pada kami— bahwa salah satunya karenamulah dia bisa begini, karena semangat darimu dia menjadi dia yang seperti ini. Kasus yang sama terjadi padaku, pada hidupku. Salah satu sebab selain doa ibuku adalah kamu, sebab kamulah aku bisa memulai pendakian ini, melangkah maju, merayap naik, mengepak sayap.
Kamu memang terlahir untuk menjadi seorang penyemangat, hanya saja kau sama sekali tak menyadarinya.

 

Kamu bukan pecinta gula, penikmat manis.
Selebihnya, apa saja asal halal mampu kamu libas habis.
Aku faham benar, belum selesai kalo belum sampai tetes terakhir, katamu.
Sama halnya dengan pribadimu, tidak manis, tidak romantis.
Tapi, dengan begitu aku tidak “giyung”.
Kamu tau apa itu giyung?  Terlalu manis hingga bukan lagi manis yang terasa, justru memuakkan.
Berbeda denganmu, aku pecinta sejati manis.
Namun, bersamamu aku tau apa itu hambar, apa itu pahit.
Sebab kamu bukan seseorang dengan seribu rayuan, semilyar janji, setriliyun harapan.
Sedangkan aku tetaplah penanti setia kapan semua hal itu menjadi kenyataan.

 

Kamu bukan seseorang yang mampu menampakkan muka saat rindu menyapa.
Bukan seseorang yang dengan leluasa memberi kabar sedang apa dan dimana.
Bukan pula seseorang yang siap sedia menemaniku setiap harinya.
Tak apa.
Dengan begitulah aku tau bagaimana rasanya merindu.
Bagaimana rasanya ketika tiba-tiba namamu muncul dilayar handphone-ku.
Juga, bagaimana peran pulsa sepuluh ribu dan paket gratis nelfon sepanjang waktu.
Kamu, jarak, dan waktu membuatku menyadari betapa berartinya dan berharganya kehadiranmu bagiku.

 

Kamu tak pernah memberi tahuku kapan akan berangkat.
Baik berangkat pulang maupun menghilang.
Katamu agar aku terkejut, agar aku terkesiap.
Tapi bagiku itu artinya agar aku tidak berharap.
Aku memang pernah berharap mampu menjadi pengendali waktu.
Agar waktu dapat melambat dan mempercepat sesuai kehendakku.

 

Untukmu disana yang sedang menapaki tangga berliku nan berbatu.
Ketika kamu merasa lelah dan ingin kembali ke kampung halamanmu pun pelukan hangat ibumu.
Ingatlah bahwa selalu ada doa orangtua dan orang terkasih yang teralun syahdu setiap waktu agar kamu tetap maju.
Juga, ada diriku disini yang senantiasa percaya bahwa kamu mampu menghalau segala bentuk aral pengganggu.
Semoga Allah selalu meridhoi.
Semoga Allah selalu memberkati.

 

Bis bald!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s