D R E A M

Manusia adalah makhluk yang gak pernah puas.
Udah kodrat dari sononya begitu.
Manusia yang hidupnya flat-flat aja alias datar tanpa perubahan bisa dikatakan manusia yg merugi.
Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin” begitu katanya.
Karena itulah, adanya mimpi.
Mimpi ada karena adanya dorongan dari dalam diri kita untuk merealisasikan sesuatu yang kita anggap terbaik untuk diri kita (Syifa, 2015) wkwk /sok bijak bgt dah/
Udah ah, ga cocok kayanya gue ngomong sok2 bijak gitu.
Malem ini, gue lagi tertarik buat curhat tentang planning gue kedepan, atau orang2 bilang sih impian.

Yaa seperti kebanyakan orang, gue punya banyak banget mimpi. Dari yang gak detail sampe yang detail. Sebut saja yg gak detail itu “jadi orang sukses”. Well, siapa sih yg gak mau jadi orang sukses? 😀 Atau “membahagiakan orang tua” ahaha, yaa bisa dibilang mimpi2 kaya gitu mah mimpi mainstream setiap orang.
Lalu, mimpi apa yg menurut readers, those’re “your” dream?

These are Syifa’s dreams (versi jangka panjang) :

  1. Hafidzahullah
    Walaupun gue tumbuh di keluarga yang gak terlalu agamis, gue juga gapernah sekolah berbasis islami selain Madrasah, dan walau gue cuma pernah mondok selama ±15 hari, pun hanya di bulan ramadhan, tapi ga ada yg salah dengan meniatkan diri untuk berusaha menjadi bagian dari keluarga Allah (re: hafidzah) bukan? Jujur, kendalanya memang buanyak buanget. Kendala nomor satu adalah susah buat ngebagi waktu. Tapi selagi niat, semua pasti bisa. Mohon doanya yaa.
  2. Bikin Perpustakaan 
    Kenapa?
    Pertama, gue hobi baca.
    Kedua, gue tumbuh di desa yg bisa dibilang minat bacanya itu kurang banget. Gue gak bisa salahin siapa-siapa, well karena gue sendiri ngerasa sarana buat dibacanya aja kagak ada, ya terus mau baca apa?
    Gue mikir. Apa yg bisa gue lakuin buat ngerubahnya? Salah satunya adalah menyediakan sarananya. Gue mau bangun perpus di desa tempat semua cerita hidup gue bermula ini, biar generasi adik atau anak-anak gue nanti pemikiran dan wawasannya lebih terbuka dengan banyak baca. Tampang bole la kampung, tapi otak? Wah ya jangan.
  3. Study abroad
    Gue pengen lanjut sekolah ke negeri orang. Alasannya? Salah satunya garagara gue dapet ilham dari Novel 5 Menara.
    Di novel itu pertama kalinya gue tau syair Imam Syafii yg ini :                                                    Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
    Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
    Pergilah kau kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
    Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.Aku melihat air yang diam menjadi rusak kerana diam tertahan
    Jika mengalir menjadi jernih jika tidak kan keruh menggenang

    Singa tak akan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang
    Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

    Jika sahaja matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
    Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

    Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman
    Orang-orang tidak akan menunggu saat munculnya datang

    Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
    Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan

    Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
    Jika dibawa ke bandar berubah mahal jadi perhatian hartawan.

    Itu awal mulanya gue terenyuh sama the power of being an open minded person.
    Gue baru ngeh, iya juga ya. Orang yg gak berani keluar dari kungkungan kenyamanan hidup di bawah ketiak ibunya itu gak akan berkembang.
    Analoginya sama kayak singa yang hidup di kebun binatang. Dia gak tau rimba yg sebenarnya itu kaya apa. Alhasil ketika suatu saat dia dilepaskan kembali ke rimba, gue yakin dia gak akan sekuat singa yg emang dari lahir udah ditempa kerasnya kehidupan rimba. Get it?
    Karena itu gue pengen belajar hidup di tempat yg bukan “gue” banget. Kalo lo bilang, “ah di Indonesia juga lu bisa belajar idup. Ngapain dah jauh2 ke luar”.Nah,  coba deh lo bandingin orang yang seumur hidup cuma di Indonesia, dimana musimnya cuma musim ujan,  musim duren, musim mangga, dan musim kemarau,  sama orang yang ngerasain teriknya sorotan mentari timur tengah, atau yg bibirnya berdarah tiap winter garagara suhunya nyampe dibawah 0ºC. Bakal lebih dewasaan siapa?
    Ah palingan kita yg ga pernah tau rasanya mah, diajak ke kawah putih aja udah give up garagara dingindiajak keluar jam 12 siang ngeluh garagara takut jadi item. Iya gak? Percaya atau gak, orang-orang yg punya banyak pengalaman bakal lebih dewasa menyikapi hidup. Kalaupun mereka ngeluh, mereka ngeluhnya lebih berkelas dibanding kita-kita yg gak tau apa-apa.

    Well, perjalanan gue masih panjang. Usaha yg harus gue kerahkan pun harus extra.
    Gue minta doanya dari kawan-kawan semua. Semoga kita semua (gue dan readers) bisa ngalamin sekolah di negeri orang, berguru tentang hidup yang sebenarnya, dan pulang dengan jiwa yang lebih dewasa.

Iitu cuma sebagian kecil dari mimpi-mimpi gue.
Gue juga pernah buat mind map tentang mimpi gue, –>

one of my plan
D R E A M

Kenapa titlenya The Waves? Karena gue yakin, hidup itu pasti bergelombang, gak mungkin datar, kadang mungkin gelombangnya tenang, bisa jadi besok justru badai. Sama kaya mimpi gue, ada perjalanan panjang nan bergelombang buat mencapai itu semua. Bisa jadi mimpi-mimpi itu bakal terwujud, setengah, atau tidak sama sekali. Tapi gapapa, gue yakin Allah punya best plan buat gue.

So, How about your dream? Wanna share with me?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s