Candu

Suaramu bagaikan candu.
Entah darimana aku mengutip kata-kata itu.
Awalnya, aku merasa kalimat ini terlalu berlebihan.
Tapi ternyata tidak.

Ya, benar. Suaramu bagaikan candu.
Yang setiap katanya mengembalikan kenangan.
Yang setiap kalimatnya menggadaikan seluruh rindu yang kian hari kian tak tertahankan.

Suaramu bagai morfin bagiku.
Sekali kau berucap, tak rela ku akhiri.
Namun ketika berakhir, sedetik saja kau sudah mampu membuat ku merindu kembali.

Sungguh, tidak ada yang salah dengan tidak berjumpa, tidak bersua, tidak bersama.
Namun bolehkah aku meminta satu hal saja darimu?
Bolehkah ku memintamu untuk tidak bosan berbicara untukku?
Till the very end?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s